Beranda Gorontalo Desa Luluo Menuju Masyarakat Sejahtera Melalui Konsep CBD

Desa Luluo Menuju Masyarakat Sejahtera Melalui Konsep CBD

92

MCB.Com (Gorontalo) – Pembangunan  Desa Luluo, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo senantiasa dilaksanakan melalui pendekatan konsep Community Based Development (CBD) atau pembangunan bertumpu pada masyarakat.

Program CBD yang sempat dilaksanakan di Kelurahan Limba U-1 Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo pada tahun 1998 lalu itu, sebagian mekanismenya diadopsi secara internal oleh Pemerintah Desa Luluo, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo.

“Semua program pembangunan dirumuskan, direncakan, dilaksanakan dan diawasi langsung oleh masyarakat. Melibatkan masyarakat dalam semua proses hingga pelaksanakan pembangunan dapat memantik rasa tanggung jawab besar masyarakat untuk mengelola dan melaksanakannya,” kata Rogers Igirisa, Kepala Desa Luluo kepada awak MCB.Com, Selasa, 26 Juni 2018.

Kebijakan pembangunan yang selama ini dillakukan benar-benar merupakan hasil penggalian potensi di desanya. Alur dan mekanisme lahirnya keputusan tentang program yang akan dilaksanakan yakni melalui melalui penggalian gagasan usulan dari masing-masing dusun. Selanjutnya dibawa ke arena Musyawarah Desa.

“Dari hasil musyawarah desa tersebut, akan ditetapkan prioritas usulan yang akan dimaksukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP-Des).  Dengan begitu, semua program benar-benar merupakan usulan masyarakat, bukan keinginan dan kepentingan pemerintah desa khususnya kepala desa,” urainya panjang lebar.

Papan Transparansi APB-Des Luluo (Foto: Hans Pieter)

Ditanya tentang APB-Des Tahun Anggaran 2018, pria kelahiran 6 Mei 1973 ini menjelaskan, terdapat empat bidang yang dibiayai melalui APB-Des senilai Rp. 1.111.000.233.000. ini, yakni bidang penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan fisik, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat, dengan  60% pembangunan dan 40% bidang pemberdayaan.

Bidang pembangunan, yang dilaksanakan adalah peningkatan jalan tani, senilai Rp. 302.000.000, sudah selesai 100 %. Selanjutnya, penataan halaman Pasar Luluo sebesar Rp. 123.794.352, Pengadaan Bibit Jabon dua ribu lima ratus pohon sebesar Rp. 2.500.000.

Sedangkan untuk program pemberdayaan masyarakat, pemerintah desa telah mengalokasikan anggaran untuk pengadaan perahu viber glass untuk nelayan sebanyak lima unit dengan anggaran Rp. 125.000.000.

Ditanya tentang mekanisme penilaian terhadap calon penerima perahu, Rogers menjelasakan, aparat turun lapangan untuk mengecek kebenaran nelayan calon penerima sasaran yang disesuaikan dengan data di desa.

Hal ini juga sebagai motivasi  nelayan yang biasanya hanya pergi ke luar daerah, untuk kembali ke desanya, sehingga pendapatan dan pengeluaran oleh nelayan tersebut bisa berputar secara ekonomis di desanya.

Selain itu juga, pemerintah desa memberikan prioritas kepada kelompok pemuda kreatif untuk membuka usaha perbengkelan senilai kurang lebih Rp. 11.000.000. Diharapkan, pemuda yang ada di desa ada kegiatan pengasahan skill dan kemampuan perbengkelan, sehingga mereka memiliki kesibukan masing-masing.

Salah satu kegiatan pemberdayaan melalui pembangunan fisik Desa Luluo (Foto: Hans Pieter)

“Faktor positifnya adalah, mereka bisa terhindar dari perbuatan perbuatan yang bisa merusak moral generasi muda, karena sudah ada kesibukannya,” ungkap Rogers didampingi Sekretaris Desa, Mawardi Popalo.

“Semua itu sumber potensinya berasal dari usulan, harapan dan keinginan masyarakat. Semua berasal dari aspirasi masyarakat berdasarkan alur dan mekanisme yang telah disesuaikan dengan peraturan peraturan tehnis pelaksanaannya,” urai Kades yang dilantik pada 5 Mei 2015 ini.

Selain semua program berdasarkan usulan masyarakat,  pengawasan internal pun melibatkan masyarakat bersama lembaga yang ada di desa. “Jika ada temuan oleh masyarakat., maka jalurnya adalah menyampaikan temuan tersebut kepada BPD setempat untuk kemudian dibahas solusi penyelesaiannya bersama pemerintah desa. Hal ini dimaksudkan agar semua persoalan yang timbul di desa segera dapat terselesaiakn tanpa harus melibatkan intervensi kalangan eksternal,” katanya.

Ditanya kendala dalam pelaksanaan pembangunan di desanya Rogers menuturkan, ada sedikit yang sering kali ditemui, yakni faktor ketidak-tahuan sebagian masyarakat tentang perioritas dan sasaran penggunaannya yang memang  telah di-frame atau dibingkai sesuai peraturan tehnis yang mengaturnya.

“Tetapi setelah disampaikan kepada masyarakat soal tidak diakomodirnya usulan mereka disebabkan karena ada batasan yang mengatur tentang sasaran dan prioritasnya, syukurlah masyarakat cukup memahami dan pada akhirnya mereka secara bersama sama mengawal dan melaksanakan pembangunan di desa ini,” ujar Rogers.

Kepala Desa Luluo bersama aparat (Foto: Hans Pieter)

Program pemberdayaan yang lain yakni pemberian makanan tambahan kepada Balita dan Ibu Hamil senilai kurang lebih Rp, 12.000.000, sudah termasuk insentif kader kesehatan desa.

Sedangkan dalam upaya pembangunan karakter melalui bidang pemberdayaan, pemerintah Desa juga memberikan insentif kepada dua orang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebesar Rp. 12.000.000.

“Upaya ini merupakan langkah pemerintah desa dalam memberi perhatian khusus kepada guru yang merupakan pencetak anak-anak bangsa yang berkarakter dan bermoral,” tuturnya.

Dalam memperkuat tata kelola pemerintah, tahun ini juga diselenggarakan pelatihan bagi aparat untuk meningkatkan kapasitas, skill, dan wawasannya agar lebih memiliki kinerja sesuai harapan dan impian masyarakat di desa ini. Program ini menelan anggaran Rp. 23.000.000.

Ditambahkannya, untuk lebih memacu dan memicu peningkatan ekonomi, pemerintah juga menganggarkan penyertaan Modal Usaha dalam bentuk BUM-Des dengan anggaran Rp. 100.000.000. Usaha yang dikelola BUM-Des yakni usaha Depot LPG 3 Kg, dan Warung Serba Ada (WASERDA).

Rogers berharap, apa yang sudah kita laksanakan pada tahun 2018, baik menyangkut program pemerintah desa maupun pemberdayaan, masyarakat dapat melestarikan dan menjaganya. Semua dapat dimanfaatkan dengan sebaik baiknya. Jangan sampai fasilitas pembangunan yang diberikan kepada masyarakat tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Tokoh Masyarakat Kecamatan Biluhu, Abdurrahman Lopuo (Foto: Hans Pieter)

Pada bagian akhir wawancara dengan MCB, Rogers juga mengungkapkan himbauan  Pemerintah Kabupaten Gorontalo kepada Pemerintah Desa Luluo agar menganggarkan pembangunan Jambanisasi Keluarga pada APB-Des tahun Anggaran 2018.

“Dan Alhamdulillan untuk tahun anggaran ini kami sudah tidak bisa lagi mengalokasikannya, sebab, sejak tahun anggaran 2015 sampai dengan 2017, pembangunan Jambanisasi tersebut sudah selesai 100 unit, dan sudah tidak ada lagi keluarga yang rumahnya tidak memiliki jamban, ” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Biluhu, Abdurrahman Lopuo, ketika dimintai tanggapannya tentang pelaksanaan pembangunan di Desa Luluo sangat mengapresiasi pemerintah desa, khususnya terkait  proses alur dan mekanisme penyampaian usulan serta pelaksanaan musyawarah dalam pengambilan keputusan hasil musyawarah.

“Kondisi tersebut memang sangat bagus dan harusnya memotivasi warga masyarakat untuk lebih giat dalam mendukung dan mengawasi jalannya pembangunan di desanya,” ujar pria yang akrab disapa Amin ini.* (01/02/Hans Pieter)