Beranda Opini Mencari Pemimpin Gorontalo

Mencari Pemimpin Gorontalo

40

 

Sahrain HkG Bumulo

Pegiat di Serikat Mahasiswa Pascasarjana Indonesia Gorontalo

Mencari pemimpin, bukanlah perkara sederhana yang dengan mudah tuntas hanya dalam beberapa saat saja. Melalui periodisasi yang cukup panjang, sehingga pencarian pemimpin bukanlah hal yang baru lagi, sejak zaman sebelum kemerdekaan, kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan, pencarian pemimpin telah menjadi bagian dari irama kehidupan kita dalam bermasyarakat. Sebagai introduksi dari tulisan ini, penulis mengutip Funco Tanipu (2008:43) dalam tulisannya “Raut Muka Gorontalo Kita”, bahwa pemimpin merupakan penentu hitam putih kehidupan. Pemimpin menjadi tulang punggung rakyat untuk berkeluh kesah, menggelayut manja, mengajak rakyat bertamasya menelusuri lorong-lorong dari sebuah perabadan, bahkan mengembara dan berziarah ke lorong kemiskinan dan jurang fatamorgana. Dari uraian ini, penulis menangkap sinyal kerisauan yang coba diterjemahkan oleh Funco dalam tulisannya agar berhati-hati dalam memilih pemimpin.

Menurut penulis, mencari pemimpin merupakan sebuah agenda yang harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, sebab memori kolektif tentang seorang pemimpin dalam setiap periode pergantian masa, terkadang menuai rasa pilu dan ngilu yang amat mendalam. Olehnya, mempertimbangkan pilihan dalam memilih pemimpin merupakan sebuah manifestasi dari kegalauan perasaan dan rasa takut yang begitu besar karena trauma atas kelalaian kita dalam menentukan pilihan, sehingga berujung dengan luka dan duka nestapa yang dalam. Hal demikian perlu menjadi cerminan keprihatinan kita bersama tentang kondisi negeri ini yang sedang mengalami “dehidrasi” sosok pemimpin yang piawai dalam menentukan dan mendesain arah perjalanan bangsa ini.

Kita Butuh Pemimpin, Bukan Penguasa

            Pemimpin itu ibarat Nahkoda dari sebuah Bahtera. Perlu adanya keahlian dan tanggung jawab besar dalam menahkodai sebuah bahtera, agar sampai dengan selamat pada tujuan. Jika seorang Nahkoda tidak memiliki keahlian dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap tugas yang diembannya, maka itu sama halnya dengan dia mencelakakan seluruh penumpangnya. Pemimpin juga dapat diibaratkan seperti Sopir mobil (baca:oto). Penumpangnya ingin duduk nyaman, santai, tenang, dan selamat sampai tujuan. Jika seorang Sopir tidak memiliki keahlian dan rasa tanggung jawab besar terhadap tugas yang diembannya, maka apa yang diinginkan oleh penumpangnya tidak dapat dipenuhi dengan baik. Olehnya, dari kedua contoh di atas, pemimpin mesti berani mengambil resiko demi keselamatan yang dipimpinnya.

            Berangkat dari uraian di atas, penulis ingin mengajak para pembaca khususnya masyarakat Gorontalo, agar menimbang dengan matang dan penuh kehati-hatian dalam menentukan siapa yang berhak memimpin Gorontalo 5 tahun ke depan. Keseriusan kita dalam mencari hingga menentukan siapa pemimpin yang pantas, merupakan wujud dari keseriusan kita untuk membangun daerah. Tidak mudah memang mencari pemimpin yang pantas, butuh pertimbangan dan analisis yang amat panjang waktunya, sebab kita mencari pemimpin bukan penguasa.

            Perhelatan politik tinggal menghitung bulan, genderang demokrasi telah ditabuh, menjadi penanda pergantian sebuah masa, arena pertarungan sedang dihias dengan lipstik-lipstik retorika yang amat menawan, para kontestan sedang “didandani” dengan berbagai macam image agar masing terlihat menawan di ruang publik, rakyat sedang bersorak gembira menanti sang “Ratu Adil” sebuah penantian di tepi zaman untuk membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan, kesengsaraan, ketidak-adilan, kesenjangan, kebodohan, bahkan kezholiman kapitalis di tanah mereka. Mereka menanti pelopor dan pemimpin nan setia, sang mentari yang cahayanya bersemi menutup gelapnya kemurkaan, pemimpin yang menghapus semua manusia jalang, yang kelak menghijaukan yang kering kerontang. Penantian tanpa henti mereka terpancar dari wajah yang kusam, karena mananti sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini. Rakyat tak peduli entah itu dongeng atau-pun kenyataan, inti harapan mereka adalah lahirnya pemimpin bukan penguasa.

Baca juga : FANATISME dan DEMOKRASI GORONTALO

Kita akan diperhadapkan dengan dua domain yang sulit untuk dibedakan. Hemat penulis, penguasa lebih pada sosok orang yang memiliki rasa dan hasrat ingin menguasai – ia datang  berbicara tentang kemakmuran rakyat, namun kemakmuran yang membawa petaka, datang mengabarkan kesejahteraan, namun meja-meja mereka terlepas jauh dari persoalan kemanusiaan. Di atas podium dia utarakan janji-janji bahagia, namun di atas meja kekuasaannya ia akhiri nasib rakyat dengan linangan air mata, bahkan di tengah gelut rakyat yang sengsara, penguasa hanya asyik berpesta. Makin banyak petani yang kehilangan tanahnya, tanah-tanah di pedesaan dimiliki oleh kapitalis-kapitalis kota, kebun-kebun yang luas dimana mereka menggantungkan mimpi dan harapan anak cucu di masa mendatang, keuntungannya diambil dengan meng-atas-nama-kan pembiayaan pembangunan. Inilah yang kemudian menjadi sebuah keprihatinan kita atas kesalahan yang fatal dalam mencari sosok yang ideal dalam memimpin daerah ini.

Memotret Masa Lalu, Menata Masa Depan

            Memaafkan masa lalu itu perlu, tapi untuk melupakan rasanya tidak. Benar ungkapan, bahwa masa lalu tak boleh dilupakan, meski pahit rasanya namun perlu dikenang sebagai spirit untuk menata hari esok. Setiap periodisasi pergantian masa, tentunya memiliki banyak cerita pilu, bahkan ada juga cerita-cerita menyenangkan. Kita perlu memotret raut masa lalu daerah ini, sebagai bentuk evaluasi dan refleksi atas setiap etape sejarah, agar kita dapat menilai pada bagian episode mana hal-hal yang perlu kita perbaiki bersama. Jika ada yang perlu dirubah, maka ayo kita rubah bersama kesalahan-kesalahan kemarin, jika trauma dengan janji-janji manis yang pernah diucapkan oleh orang-orang terdahulu, ayo kita posisikan mereka yang pernah berjanji dalam barisan-barisan para mantan. Kita mulai menata hidup baru, mendesain visi baru, pemimpin yang baru, tentu dengan gaya kepemimpinannya-pun baru.

            Gorontalo hingga saat ini masih termasuk dalam 5 besar daerah termiskin, sejajar dengan beberapa daerah yang seyogianya memiliki sumberdaya alam melimpah, seperti Papua, Maluku, Sulbar, dan daerah di wilayah Timur lainnya. Inilah potret daerah kita yang semestinya menjadi titik berangkat dari para kontestan yang memiliki keinginan besar untuk memimpin dan membangun Gorontalo lebih baik dari sebelumnya. Rakyat tidak butuh janji untuk makan siang, melainkan visi dan kerja-kerja strategis dalam pembangunan daerah. Kita perlu mengevaluasi, sebenarnya apa yang menjadi akar permasalahan yang membuat daerah ini tidak mampu keluar dari lingkaran kemiskinan? Cukup lama kita dipenjara oleh keadaan ini, sejak zaman kemerdekaan, kemiskinan menjadi domain utama yang sulit untuk diselesaikan, apa sebenarnya akar permasalahannya?

Baca juga : MEMBAYANGKAN CALON KEPALA DAERAH BERTAUBAT

Hampir setiap waktu kita disuguhi dengan keadaan para petani yang menua di atas tanah daerah ini yang amat kaya, namun tidak memberi kemakmuran baginya, padahal mayoritas penduduk daerah ini adalah bertani. Mereka rela tinggal di gubug tanpa jendela, demi menanti panen di tanah yang subur, ironisnya mereka hanya memanen hasil milik para tuan tanah yang tinggal di rumah-rumah bertingkat yang setiap bulannya maraup keuntungan besar, dan memberi upah kepada petani yang hanya cukup untuk makan setiap hari. Penderitaan mengalir dengan begitu deras dari gubug-gubug reot mulai pagi hingga sore, dan terus berulang seperti itu hingga usia mereka menua. Sedangkan cukong-cukong pabrik berpesta di atas keringat petani. Bagaimana caranya keluar dari kemiskinan, jika kondisi ini terus dipelihara tanpa ada kebijakan soal agraria dan ekonomi dari pemimpin daerah.

Masa lalu yang kelam membuat rakyat trauma dalam memilih pemimpin. Hemat penulis, hal ini yang kemudian rakyat rela menjual suaranya demi uang 250ribu, sebab menerima uang atau-pun tidak nasib mereka tetap saja begitu, kalau-pun tidak memilih seringkali dituduh PKI, melawan negara, dan sejenisnya akibat golput. Saat menerima uang, rakyat dituduh menjual suara, mata duitan, bodoh, kampungan, dan tuduhan-tuduhan sejenisnya. Realitas inilah yang membuat rakyat merindukan sosok pemimpin yang memimpin dengan kelembutan, memahami mereka, yang tahu kondisi daerah ini, dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan lebih mengedepankan kepentingan para petani dibanding pemntingan cukong-cukong pabrik. Adakah kontestan yang berani kehilangan kauntungannya dari kapitalis-kapitalis kota demi mempertahankan kepentingan petani?

Pemimpin Harus Punya Visi Kemanusiaan

            Kami tak butuh janji, tapi visi. Masih adakah stock pemimpin yang visi kemanusiaan? Zaman yang akan menjawab pertanyaan ini. Kita butuh pemimpin yang mampu menjadi resolusi atas carut-marut yang melanda daerah ini, bukan pemimpin yang membiarkan rakyatnya makan akar kayu, sedangkan pangan sebagai bahan makanan menumpuk di gudang-gudang milik kerabat, kolega, dan rekan bisnisnya. Kita butuh pemimpin yang mampu menata-kelola tanah petani melalui kebijakan-kebijakan agrarianya, bukan pemimpin yang membiarkan rakyatnya menjadi seonggok sampah di tanahnya, dan memberikan izin kepada kerabat, kolega, dan rekan bisnisnya meraup keuntungan dari tanah-tanah rakyat yang tak berdaya, membiarkan alih fungsi lahan, pembabatan hutan dengan meng-atas-namakan pembangunan, yang kemudian jeritan mereka di tengah banjir akibat rusaknya lingkungan malah dijadikan panggung politik.

Kita butuh pemimpin yang yang mau menampung keluh kesah rakyatnya, bukan pemimpin yang membiarkan rakyatnya terlantar di jalanan, sedangkan kerabat, kolega, dan rekan bisnisnya diberikan keteduhan di balik istana-istana megah hasil raupan dari keuntungan yang diperah dari tanah-tanah para petani. Rakyat mesti cerdas memilih dan memilah sosok seorang pemimpin yang sedang dicarinya, sebab keseriusan kita dalam mempertimbangkan sosok pemimpin, merupakan bagian dari menata masa depan Gorontalo yang lebih cerah. Jika perlu, di setiap desa rakyat membuat komunitas mencari pemimpin yang memiliki tugas untuk membedah visi dan program yang kelak disodorkan untuk diimplementasikan selama 5 tahun, agar kita tidak termakan tipu daya dan janji manis yang dilontarkan di balik podium dan panggung-panggung politik. Jika hal demikian tak cukup untuk melahirkan pemimpin yang ideal buat daerah ini, maka carilah langkah-langkah strategis untuk mempertimbangkan siapa yang piawai untuk mendekorasi peradaban bagi daerah ini.

Saatnya Gorontalo dipimpin oleh seseorang yang memiliki visi kemanusiaan, bukan sosok pemimpin yang mengganggap soal kemanusiaan adalah urusan Tuhan. Bukan hanya rakyat saja, penulis mengajak para pemuda desa, pemerhati kemiskinan, intelektual muda, aktivis, dan seluruh elemen pemuda, ayo kita ikut berpartisipasi dalam mencari pemimpin yang ideal untuk daerah ini. Saatnya kita membedah sosok yang pantas untuk mendesain Gorontalo menjadi lebih baik. Di belakang kita, ada ratusan ribu rakyat miskin yang berbaris sepanjang sejarah, para petani yang kalah dalam pergulatan, pengemis-pengemis yang tempat tidurnya di dalam selokan, dan buruh-buruh yang ditindas di pabrik milik pemodal besar, janganlah kita tinggalkan mereka toh mereka juga manusia.***