Beranda Gorontalo Nelson Pomalingo Memberi Tiga Syarat Bagi Calon Wakil Bupati Pendampingnya

Nelson Pomalingo Memberi Tiga Syarat Bagi Calon Wakil Bupati Pendampingnya

263

MCB.Com (Gorontalo) – Meski gong Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Gorontalo tahun 2020 belum ditabuh oleh KPUD, namun sejumlah bakal calon sudah mulai bermunculan di media sosial. Justru partai politik yang berhak mengusung pasangan calon, belum menyebut satu namapun yang bakal diusung.

Ramainya bakal calon yang sedang mewacana saat ini, mengundang perhatian dan respon dari para netizen. Bahkan netizen—pengguna facebook telah menampilkan nam-nama  yang akan bertarung di pilkada Kabupaten Gorontalo mendatang.

Menariknya lagi, siapa bakal calon wakil bupati yang akan mendampingi calon petahana—Nelson Pomalingo? Teka-teki ini mengundang perhatian masyarakat. Nah, untuk lebih jelasnya, berikut kutipan wawancara Adhar Helingo (AH) bersama Ketua DPW PPP Provinsi Gorontalo, Prof. Nelson Pomalingo (NP) beberapa waktu lalu:

AH          : Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Pak Prof.

NP          : Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

AH          : Apa kabar Pak Prof?

NP          : Alhamdulillah, baik.

AH          : Pak Prof, pilkada di Kabupaten Gorontalo tak lama lagi—tahun 2020 akan digelar. Bagaimana persiapan anda?

NP          : Kalau ditanya sama saya, sampai saat ini saya belum menyatakan sikap untuk maju atau tidak sebagai calon bupati.

AH          : Kenapa Pak Prof? Padahal perolehan kursi PPP di DPRD Kabupaten Gorontalo hasil pemilihan umum tahun 2019, beroleh 7 kursi. Sudah memenuhi syarat untuk mencalonkan pasangan calon, walaupun tidak berkoalisi dengan partai lain.

NP          : Nah, begini. Ada tiga tahap yang saya lakukan: Pertama, pileg diselesaikan. Alhamdulillah pileg sudah selesai, dan PPP sekarang sudah memenuhi syarat—7 kursi. Kedua, Saya konsentrasi bekerja. Kalau sudah bicara politik, pekerjaan saya terganggu. Saya cek satu persatu, mana yang sudah selesai dan mana yang belum selesai. Ketiga, saya akan berkunjung dan bertanya kepada rakyat, apakah saya masih boleh maju atau tidak? Kalau rakyat bilang “tidak”, yah… “sudah”, saya tidak mau maju lagi. Jadi tidak perlu orang bilang, “harus diganti”.

AH          : Pak Prof, ada yang menarik saat ini dan menjadi pertanyaan publik. Jika anda direstui rakyat untuk maju kembali lagi, siapa yang anda jadikan pendamping anda, maksud saya calon wakil bupati nanti?

NP          : Hehehehe…. Memang hal ini yang selalu menjadi wacana dan pertanyaan rakyat. Golkar sudah datang ke-saya, bersedia menjadi wakil saya. Bahkan sudah banyak yang melamar jadi wakil bupati. Cuma saya bilang, tunggu waktunya. Jadi, ada waktunya saya akan memutuskan.

AH          : Apakah ada syarat bagi calon wakil bupati pendamping anda nanti?

NP          : Ya, begini. Calon wakil bupati itu harus berpengaruh untuk menambah perolehan suara. Oleh sebab itu dibutuhkan tiga syarat: Pertama, figur; kedua, melihat partainya, karena menambah kekuatan; dan yang ketiga, ongkos politik. Tapi yang paling penting bagi saya adalah figur dan partai pengusung.

AH          : Tapi kost politik juga penting Pak Prof.

NP          : Kalau bicara ongkos, saya tidak terlalu percaya. Kalau cuma bicara ongkos, mestinya bukan saya yang menang waktu lalu (pilkada 2015-red). Ongkos itu penting, tapi tidak segalanya ongkos. Bukan itu yang utama.     

AH          : Pak Prof, saat ini banyak figur bakal calon bupati maupun bakal calon wakil bupati yang diwacanakan, menghiasi media sosial. Tanggapan anda?

NP          : Bagus…! Saya senang. Makin banyak yang maju, entah calon bupati maupun calon wakil bupati, itu lebih bagus. Saya pun berharap, makin  banyak yang maju, berarti pikiran-pikiran banyak. Semangat membangun daerah banyak.

AH          : Tapi Pak Prof, bakal calon yang diwacanakan tersebut cukup kuat sebagai lawan tanding anda.

NP          : Justru saya lebih bersyukur dan senang. Makanya saya belum menyatakan maju. Dengan munculnya calon-calon yang hebat, berarti rakyat lebih banyak pilihan. Kalau lebih dari dua pasang, itu lebih bagus. Jangan seperti pilpres saat ini, hanya dua kutub. Gesekan terlalu kuat. Kalau lebih dari dua pasang yang bertarung, lebih bagus. Demokrasi akan lebih cair dan demokrasi terjaga.  

AH          : Apa harapan anda dalam menghadapi pilkada mendatang?

NP          : Perlu dicatat, dulu saja saya belum bupati menyatakan maju sebagai bupati, apalagi saat ini—saya bupati. Tapi begini, kalau ingin maju, silahkan. Saya ingin katakan, orang hebat itu bertarung di ring. Petinju yang hebat itu bertarung di ring, bukan di luar ring. Kalau di luar ring, preman namanya. Maka silahkan, siapa yang punya keinginan, mau bupati atau mau wakil bupati. Apalagi partai saat ini bagus. Melakukan koalisi gampang.

Demikian kutipan wawancara MCB.Com bersama Nelson Pomalingo beberapa waktu lalu di rumah dinas bupati. Meskipun Nelson Pomalingi belum menyatakan sikap untuk maju kembali sebagai bakal calon bupati, namun Nelson sudah menyampaikan isyarat bagi bakal calon wakil bupati. Kita tunggu saja sikap Nelson selanjutnya.***