Uniknya Tradisi Tumbilotohe Menyambut Lailatul Qadar di Gorontalo

mediacerdasbangsa
By mediacerdasbangsa Juni 13, 2018 23:02

Uniknya Tradisi Tumbilotohe Menyambut Lailatul Qadar di Gorontalo

MCB.Com (Gorontalo) – Tumbilotohe merupakan salah satu tradisi masyarakat Gorontalo menyambut Hari  Raya Idul Fitri. Tumbilotohe berasal dari dua suku kata, tumbilo bermakna pasang, sedangkan tohe bermakna lampu.

Tradisi malam pasang lampu dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut, dimulai pada hari ke-27 Bulan Suci Ramadhan, malam ganjil yang diyakini turunnya Lailatul Qadar,  malam yang penuh kemuliaan, dan semua dosa-dosa manusia telah diampuni oleh Allah SWT.  Tumbilotohe mulai dinyalakan usai Shalat Magrib dan berakhir menjelang Shalat Subuh.

Dilihat dari sejarahnya, tradisi tumbilotohe diperkirakan berlangsung sejak abad ke-15 Masehi. Kala itu penerangan masih berupa wango-wango, yakni alat penerangan masih terbuat dari wamuta atau seludang, kemudian dibakar .

Beberapa tahun kemudian beralih menggunakan tohe tutu, dimana bahan bakarnya berasal dari damar—getah padat yang diperoleh dari pohon Gymnospermae (sejenin pohon yang tumbuhan runjung). Jika dipasang damar ini akan menyala cukup lama.

Tradisi Tumbilotohe yang terbuat dari tohe tutu, dimana bahan bakarnya berasal dari damar.

Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima—sejenis kerang dan pepaya yang dibelah dua—disebut padamala.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka bahan lampu buat penerangan diganti minyak tanah hingga sekarang ini. Bahkan untuk lebih menyemarakkan tradisi ini sering ditambahkan dengan ribuan lampu listrik.

Budaya turun temurun ini menjadi ajang hiburan masyarakat Gorontalo. Malam tumbilo tohe benar–benar ramai, bisa dibilang festival paling ramai di Gorontalo. Saat tradisi tumbilo tohe di gelar, wilayah Gorontalo jadi terang benderang, nyaris tak ada sudut kota yang gelap.

Lampu botol pun menjadi hiasan yang digantung pada kerangka–kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning atau dikenal dengan nama Alikusu (hiasan yang terbuat dari daun kelapa muda) menghiasi kota Gorontalo. Di atas kerangka di gantung sejumlah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu sebagai lambang keramahan dan kemuliaan hati menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning atau dikenal dengan nama Alikusu

Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan di Gorontalo, sangat diyakini kental dengan nilai agama. Dalam setiap perayaan tradisi ini, masyarakat secara sukarela menyalakan lampu dan menyediakan minyak tanah sendiri tanpa subsidi dari pemerintah.

Tanah lapang yang luas dan daerah persawahan di buat berbagai formasi dari lentera membentuk gambar masjid, kitab suci Alquran, dan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Tradisi tumbili tohe juga menarik ketika warga Gorontalo mulai membunyikan meriam bambu atau atraksi bunggo dan festival bedug.

“Tumbilo tohe, ta mohile jakati bubohe”. Kalimat pantun ini sering lantunkan oleh anak – anak pada saat tradisi pemasangan lampu dimulai. Budaya turun temurun ini menjadi ajang hiburan masyarakat setempat.

Malam tumbilo tohe benar – benar ramai, bisa di bilang festival paling ramai di Gorontalo. Saat tradisi tumbilo tohe digelar di Gorontalo jadi terang benderang, nyaris tak ada sudut kota yang gelap.

Pada masa lalu, ada juga warga yang sengaja menerangi pekuburan. Maknanya, untuk mengingatkan mereka yang masih hidup akan kematian, sehingga timbul rasa syukur, masih beroleh kesempatan bertemu dengan bulan Suci Ramadan.

Ada hal menarik lainnya dari tradisi ini, pada masa lalu, Tumbilotohe juga berfungsi sebagai alat statistik tradisional. Jumlah lampu di pintu masuk halaman rumah penduduk, disesuaikan dengan jumlah para penghuninya.

Dengan demikian, setiap orang akan saling mengetahui berapa jumlah penghuni di setiap rumah. Saat ini, Tumbilotohe tak ubah seperti seremonial belaka.  Bahkan dijadikan alat dan komoditas politik, terlebih pada momentum pilkada atau pileg.

Mengenai latar belakang tradisi tumbilotohe, beragam versi. Ada yg menyebut, menyambut malam lailatul qadar supaya orang tidak tidur, tapi beribadah. Ada piula yang mengatakan menyambut Idul Fitri dan lain-lain. (TIM)

 

mediacerdasbangsa
By mediacerdasbangsa Juni 13, 2018 23:02
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment

Only registered users can comment.