Beranda Opini Samsi Pomalingo: Toleransi di Hari Paskah

Samsi Pomalingo: Toleransi di Hari Paskah

89

MCB.Com (Gorontalo) – Mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar keagamaan terhadap non-Muslim sebenarnya adalah bentuk toleransi umat beragama secara sosiologis. Hal ini disampaikan Samsi Pomalingo di Aula Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, Jumat, (19/42019) malam.

Menurut Samsi, Paskah dalam pandangan keagamaan kristen bukan hanya sekadar rutinitas, tapi merupakan sebuah ritual pengorbanan Yesus sebagai anak domba Tuhan untuk melakukan penebusan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan umatnya. Kalau dari sisi sosiologis (kemasyarakatan), sebetulnya Yesus mengajarakan bagaimana membangun hubungan persatuan kemanusiaan (Hablum minan nas).

“Hari Paskah sangat bermakna bagi umat Kristiani. Pada hakikatnya, Paskah dapat membangun relasi manusia itu sendiri, tidak hanya di umat kristiani tapi juga antar sesama umat bergama yang ada di indonesia khususnya di Gorontalo,” ujarnya.

Terkait politisasi agama menurut Samsi, tergantung siapa yang memainkan, kalau kemudian agama ditarik kepada kepentingan politik, maka agama akan kehilangan sakralitas. Artinya apa, agama tidak lagi menjadi faktor integratif (pemersatu bangsa) tetapi menjadi faktor pemecah-belah bangsa.

Agama manapun lanjut Samsi, pada dasarnya mengajarkan kedamaian, maka sama sekali tidak bisa dilibatkan dalam persoalan politik praktis sesaat. Karena orang-orang bergama harus mengakui bahwa agama mengajarkan umatnya untuk damai, bersaudara.

Jika agama menjadi penyebab perpecahan, itu karena berbagai kepentingan yang mendasari atau ada kelompok yang sengaja meraih kepentingan dengan menggunakan akidah atau agama tertentu untuk mendapatkan keuntungan.

“Pengucapan selamat terhadap hari-hari besar agama lain itu jangan dilihat dari aspek teologis, pengucapan itu harus dilihat dari aspek sosiologis. Kita ini kan manusia, manusia itu sumbernya satu ciptaan Tuhan, pengucapan itu dalam rangka hablum minan nas (hubungan sesama manusia) jadi bukan hablum minallah (hubungan kepada Tuhan). Misalnya saya mengucapkan hari raya paskah bagi umat kristiani, ini sifatnya sosiologis atau hubungan sesama manusia. Saya memahami saya manusia, mereka juga manusia, maka wajib saya menghormati mereka sebagai manusia yang merayakan hari keagamaan mereka,” tegas Samsi.

Di Gorontalo kata Samsi, ia melihat masyarakat tercerahkan. Penganut agama sadar betul tentang agama sebagai simbol pemersatu. Samsi sangat berharap kepada agama kristen, islam, hindu, budha yang ada di Provinsi Gorontalo harus tetap dengan agenda dan misi perdamaian.

“Meskipun masyarakat Gororntalo sangat mejemuk, sangat plural, mereka sangat menghargai perbedaan. Kalaupun ada riak-riak, itu biasa datang dari kelompok-kelompk kecil yang mungkin tidak ingin melihat kerukunan umat bergama itu terjadi, khususnya di Gorontalo. Agama adalah pembebas umat, agama adalah perdamaian itu sendiri dan tetap menjadi penjaga kedamaian Gorontalo,” jelas Samsi.(01/Yusran)