Tujuh Bulan Di Gorontalo Zudan Arif Di-bully Kata-Kata Kasar di Facebook  

mediacerdasbangsa
By mediacerdasbangsa Mei 20, 2017 04:00

Tujuh Bulan Di Gorontalo Zudan Arif Di-bully Kata-Kata Kasar di Facebook  

“Selama tujuh bulan  berada di sini merasakan seperti mendapat kampung kelahiran yang kedua. Hulondhalo lipu’u, walau engkau kutinggalkan, tapi tetap akan kuingat selamanya di dalam hati. Tidak ada kata-kata yang pantas saya ucapkan selain berterima kasih kepada ibu-bapak semuanya,” ungkap Zudan Arif Fakhrullah.

MCB.Com (Gorontalo) – Kata-katanya terurai rapi. Pilihan bahasanya santun. Intonasi kalimatnya sungguh sangat menggugah. Masyarakat pun terkesimak. Ada pula yang sampai meneteskan air mata.

Zudan Arif mulai berkisah ketika ia ditunjuk sebagai Penjabat Gubernur Gorontalo selama tujuh bulan. Dikatakan, Gorontalo sejak zaman Sultan Amay sampai dengan Sultan Eyato, meneguhkan jati dirinya sebagai daerah yang kuat adatnya, karena bersendikan Al-Quran. Daerah yang adatnya kuat karena bersendikan Syariat. Syariatnya kuat karena bersarkan Al-Quran.

Pria kelahiran, Sleman, 24 Agustus 1969 ini mengajak masyarakat untuk terus kembangkan sebagai jati diri masyarakat Gorontalo. Cerminan yang ia pelajari adalah lahirlah simbol-simbol dalam bentuk pakaian, dan bentuk kopiah.

Guru Besar Termuda dalam komunitas intelektual Ilmu Hukum Indonesia ini menterjemahkan “Kopiah” dari bahasa aslinya. “Kopiah” dalam Bahasa Arab, “Kofiah” yang artinya menutup. Ciri orang Gorontalo itu biasa menutupi. Kalau kaya tidak di tampakkan kekayaannya. Kalau pintar, tidak ditampakkan pintarnya. Kalau sombong, tidak pernah ditampakkan sombongnya.

“Jadi, tujuh bulan saya merasakan hal-hal yang seperti itu. Maka terima kasih banyak  kopiah ini saya dengan bangga membawa sampai ke sidang HAM di Jenewa. Dari 189 delegasi di seluruh dunia, satu-satunya yang menggunaka kopiah hanya delegasi dari Indonesia. Dan yang dipakai adalah kopiah karanji,” urainya.

Mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Hukum UNS ini berharap untuk tetap menjaga jati diri masyarakat Gorontalo. Menurut Zudan, delegasi Republik Indonesia tahu bahwa kopiah karanji itu hanya milik Provinsi Gorontalo—tidak  ada lagi yang lain.

“Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, mari kita berbangga hati, berbesar hati. Pakailah kopiah ini di semua kesempatan, di semua event. Ini akan menghidupkan usaha ekonomi kemasyakatan kita. Contoh hari ini, saya membawa 1300 pegawai dinas Dukcapil seluruh Indonesia. Untuk mengadakan Rakornas di Gorontalo. Ternyata hampir seluruh kopiah Gorontalo sudah habis,” katanya penuh bangga.

Zudan pun berkeluh kesah selama ia menjabat Gubernur Gorontalo. Di masa-masa pilkada, ia mendapat surat kaleng yang dikirim ke Menteri Dalam Negeri. Ia dilaporkan dengan bahasa sangat tidak bagus, sangat tidak etis.

Bahkan di facebook ia dibully dengan kata-kata kasar. Isinya tidak baik. Kemudian Zudan pun melakukan konsultasi dengan rekan-rekannya di Polda Gorontalo. Jika dikaji dari aspek hukuim dan keteranga pihak kepolisian, terpenuhi unsur pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, tindak pidana dalam undang-undang informasi dan transaksi elektronik, serta pasal-pasal dalam KUHP.

“Teman-teman saya mengatakan, terpenuhi pak. Bila ini barang bapak lanjutkan, yang bersangkutan pasti masuk,” jelas Zudan.

Namun ketika ia berdiskusi dengan istrinya, malah Zudan dinasihati istrinya. “Jika dilanjutkan, setidaknya  dua keluarga yang menderita bersama anak istrinya, karena pasti masuk penjara. Atau pilihan berikutnya, lupakan dan maafkan, dianggap masalahnya selesai, karena pilkadanya sudah selesai,” ujar Zudan menirukan nasihat istrinya.

Akhirnya Zudan pun mengikuti saran istrinya, sehingga dua orang terhindar masuk penjara. Tidak ada korban yang jatuh selama tujuh  bulan Zudan berada di  Gorontalo sebagai penjabat gubernur hanya dengan memaafkan—dan  masalah selesai.

“Saya merasa tidak ada satupun dari kata-kata ibu dan bapak yang menyakiti hati saya. Saya berharap yang keluar dari saya halnyapun demikian seperti itu. Kalau ada hal-hal yang tidak berkenan dihati ibu dan bapak, mohon saya dibukakan pintu maaf,” tandasnya. * (01/02/Ferd)

mediacerdasbangsa
By mediacerdasbangsa Mei 20, 2017 04:00
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment

Only registered users can comment.