Beranda Regional Kehadiran PT Mamuang dinilai Mensejahterakan Masyarakat Transmigran

Kehadiran PT Mamuang dinilai Mensejahterakan Masyarakat Transmigran

7

Pasangkayu – Kehadiran PT. Mamuang Anak perusahaan astra group yang bergerak di bidang kelapa sawit di kabupaten mamuju utara (matra) provinsi sulawesi barat (sulbar) dinilai sejumlah warga transmigrasi telah banyak membawa perubahan dan bahkan mampu mengsejahterakan petani sawit di kabupaten mamuju utara.

Hal tersebut bisa di lihat dari berkembangnya perusahaan sawit milik astra group dengan membangun kemitraan dengan masyarakat lokal dan bahkan masyarakat transimigrasi seperti yang dialami Wayan Widya seorang warga Trans Bali. saat ditemui dikediamannya di Desa Mertasari yang dulunya mempunyai rumah sederhana dan terkesan kumuh sekarang  kini telah berdiri megah dan bahkan Sebuah Pura yang cukup megah dibangun di halaman depan rumahnya, membuat pria yang akrab disapa Pak Suni ini tenang beribadah.

Wayan dan keluarganya bertransmigrasi sejak Tahun 1980 dari Pulau dewata bali ke tanah Sulawesi dan hidup Bertani menjadi salah satu mata pencaharian utama keluarganya saat itu. Selain bertanam sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pada tahun 1996 ia mulai menanam sawit. “ Dulu ngak ada yang nanam sawit, disini lahannya kayak rawa susah kami untuk bertani terangnya sambil mengusap keringatnya karena saat itu matahari cukup menyengat sambil tertawa kecil.

Wayan kemudian melanjutkan perbincangannya, tapi sejak PT Mamuang masuk dan mengelola lahan, masyarakat banyak mulai tertarik menanam sawit”. Jelas wayan. “ Tahun 2006 saya menjadi peserta IGA PT Mamuang dengan luas lahan sebesar satu kapling atau 2 Hektar”. lanjut Pria yang sederhana ini mengaku kini telah memiliki lahan sendiri diluar lahan IGA juga, namun ia enggan menyebutkan luasan lahan miliknya.

Income Generating Activity (IGA) merupakan program pengembangan ekonomisekitar perusahaan group Astra Agro lestari. Berdirinya PT Mamuang diakui telah membuat perubahan besar bagi warga transmigrasi di kampung Mertasari,sebagai desa terdekat dengan PT Mamuang. Hal ini bisa terlihat dari baiknya sarana dan prasarana di kampung tersebut ditengah perumahan warga yang berderet megah dengan Pura di halaman Rumahnya sekilas menampakan kekentalan budaya tanah leluhurnya.

Dengan program IGA berdiri berbagai kelompok tani masyarakat. Salah satunya kelompok tani Puncak Jaya yang beranggotakan 11 orang yang dibentuk tahun 2006 dengan jumlah lahan seluas 17 Hektar. I Wayan Irawan, Salah satu peserta kelompok tani mengaku, sudah sejak berusia 18 tahun ia diajarkan bertani kelapa sawit oleh ayahnya. “Dulu saya bantu ayah, sekarang saya sudah punya lahan sendiri 2 hektar” ujar pria yang kini berusia 28 tahun tersebut. Wayan Irawan mengaku, hasil kerja kerasnya bertani kini telah membawa perekonomiannya berkembang pesat, dan bahkan  Ia bercita-cita menyekolahkan anaknya hingga sarjana dari hasil pertaniannya tiap bulan, selain mempunyai lahan perkebunan kelapa sawit wayan juga mempunyai kios klontong, Mobil dan sebuah rumah yang nyaman bagi keluarganya.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Kepala Desa Mertasari I made Artha. Ia mengaku perkembangan perekonomian masyarakatnya tumbuh pesat sejak berdirinya PT Mamuang. “Perusahaan memberikan program bantuan bibit dan pendampingan khusus bagi warganya sehingga warga desanya bisa menjadi petani yang produktif. “Sedikit demi sedikit kami belajar darpendampingan PT Mamuang dan kini banyak diantara warga yang telah memiliki kebun sendiri dan menjadi petani Swadaya”. Jelas Made Artha.

Selain Infrastruktur dan rumah warga yang kini telah meningkat, efek secara tidak langsung dari keberhasilan warganya sebagai petani dapat dilihat pula dengan tingkat pendidikan yang kini mulai tinggi. “Banyak diantara warga yang kini memiliki aset di Palu atau Makassar dan menyekolahkan anaknya di kota-kota besar. Made menambahkan, Masyarakat yang sudah mengenyam pendidikan kini mencapai 70% , Bahkan hingga tingkat perguruan tinggi”. Lanjut Made Artha. Desa Seluas 68,54 km tersebut kini telah memiliki dana yang dikelola oleh koperasi Budi Jaya. “petani dipotong 2 persen, untuk dana desa setengahnya dan setengahnya lagi untuk dana Koperasi. Dana desa itulah yang kemudian digunakan untuk membangun infrastruktur desa”. Jelas Made Artha.(joni)